Arsip Bulanan: September 2012

Suku Tengger …

Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. Baca lebih lanjut
Iklan

Menuju Mahameru…

gunung semeru

Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang-pergi. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh dari kota Malang atau Lumajang.
Dari terminal arjosari Kota Malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang, ataupun di depan alfamart dengan biaya per orang Rp.30.000,- hingga Pos Ranu Pani.

Sebelum melakukan Pendakian ke Mahameru kita harus mengurus surat perijinan, hal itu dapat kita lakukan di Pos Tumpang, ataupun di Pos Ranu Pani.

Baca lebih lanjut

Legenda Gunung Semeru …

Pada zaman dahulu, tanah Pulau Jawa senantiasa bergoyang. Gempa hampir terjadi setiap waktu, saat itu Pulau Jawa masih belum ada penghuninya sehingga tidak terjadi korban jiwa.
Melihat keadaan Pulau Jawa para Dewa merasa sangat prihatin. Jika keadaan tersebut dibiarkan, Pulau Jawa selamanya tidak dapat dihuni manusia. Itu sebabnya, dengan berbondong-bondong para dewa menghadap Batara Guru yang menjadi pemimpin mereka.” Sampai sekarang Pulau Jawa masih terus bergoyang kalau tidak segera di atasi, Pulau itu selamanya tidak akan ditempati. Karena itu, Mohon Pukulun ( Tuan ) memikirkannya,” kata Dewa Wisnu. Baca lebih lanjut