ENAKNYA LIBURAN DENGAN BERPETUALANG

 

dscf0082

Tim 8 gmc

Dua bulan lebih persiapan untuk mengadakan expedisi dan konservasi Alam yang pertama bagi tim pecinta alam GMC SMK Negeri 4 Malang. Mulai dari persiapan mental, akomodasi, transportasi, administrasi, navigasi dan penghitungan cuaca dengan bekerjasama BMG karang ploso.

Pencarian sponshorship yang tersendat, BRI, Telkomsel, Yamaha, Suzuki, dan Perhutani KPH Malang Raya, Dhamma TV, dan Malang Post serta Didik Com N Printing telah maksimal diupayakan.

Waktu yang sangat mendesak bagi tim adalah 3 (tiga) hari waktu pelaksanaan yaitu tanggal 22 Juni, ternyata, di tunda sampai hari Minggu tanggal 24 Juni, dikarenakan pengurusan Ijin Perhutani dan Asuransi peserta dengan jumlah 10 (sepuluh) orang baru bisa diselesaikan hari Sabtu jam 2 siang, maka semua tim sepakat penundaan jadual keberangkatan yaitu Minggu 24 Juni 2007, pukul 08.wib kumpul di sekolah.

 THE EIGHT TEAM

Pukul 08.00 WIB, Akhirnya tim berkumpul didepan sekolah (SMK Negeri 4 Malang), cek dan ricek akhir, semua anggota dilaksanakan mulai dari bekal pribadi dan bekal untuk tim dan Administrasi, semua oke!, dan disepakati tidak membawa Carmatel.

Pukul 08.30 WIB, ternyata tim yang direncanakan 10 orang, berkurang dua menjadi 8 orang dengan satu cewek (yussi Sinam), dikarenakan 2 orang akan mengikuti seleksi Penerimaan Karyawan di sekolah serta Mengikuti seleksi SPMB, maka semua tim menunda langsung berkumpul, berdoa, ambil dokumentasi, dan membuat kesepakatan, bahwa tim ini dinamakan “The Eight Team)

Pukul 09.00 WIB, Akhirnya tim berangkat dengan mencarter Mikrolet LG Ke Dono Mulyo, murah Cuma, 110.000 Rupiah.

 PR MATEMATIKA 1000 RUPIAH

Dalam Perjalanan ke Donomulyo semua tim terasa bahagia, sopir tidak ugalan-ugalan, dan  Ngefrend banget lah, “ Kata Yussi.

Bahkan si Sopir yang namanya gak mau disebutkan, membuat tiga pertanyaan plesetan ke pada semua tim………..!,  Yang pertama (bahasa Malangan) :

Sopir   :    “Ada anak TK cerdas, Kritis, dan pandai menyanyi, serta si anak ini calon Nasionalis, “kata si Sopir.

Kukuh  :    “Opo, iku bos! ”jawab Kukuh.

Sopir   :    “Arek cilik iku pas ndelok Balon, nyanyi “Balonku Ada Lima….”, terus pas ndelok pelangi, arek’e nyanyi “Pelangi-pelangi alangkah indahnya….” Lha…..! kata si Sopir agak kenceng…..! Pas arek iku ndelok ibu muda lungguh….. mohon maaf …… kethok kathok’e……! nyanyi opo arek’e……..pokok’e…..lagune-lagu Nasional, ayo jawab! ” Tanya si Sopir sambil melaju di tingkungan tajam Kendal payak………..!

Agil     :    “Ayo.. opo Rek,” kata Agil..sambil berpikir juga.

Yusi    :    Opo, yo, “ dengan raut muka bingung.

Joko    :    “opo, bos, ”Tanyanya ke Sopir

Sopir   :    “jawaben disek, rek!, Ngono kok nyerah, jare PA, bentak sopir sambil tertawa.

Njoyo  :    “Nyanyi Kucing Garong Bos,”Jawab Njoyo sekenanya.

Sopir   :    “Kucing Garong Kok Nasional ” Ngawur…………!

Gading :    “Katok, Bos!”jawab Gading sambil senyam-senyum…..

Sopir   :    “arek Cilik’e, Yo, nyanyi “Disanaaaaa tempat lahir beta, ….dibuai dibesarkan Bundaaaaaa………….! “jawab Sis Sopir sambil nyanyi.

Tim 8  :    “hua…ha..ha..ha…ha…..” semua tim 8 tertawa terbahak-bahak…… termasuk Pak Rukhan, Yang kelihatan avatarnya dari awal…..

Tawa tim delapan GMC terasa memecah kegalauan hati, yang dari awal santai maka semakin santai pula, mikroletpun terus melaju kencang dengan tawa tiada henti……

Tak terasa mikrolet telah melewati Kepanjen dan terus melaju dengan santai menuju Desa Sengguruh. Ketika mikrolet melaju ditikungan Si Sopirpun beraksi kembali dengan plesetannya kepada semua tim yang masih membahas plesetan si Anak Kecil Yang cerdas.

Sopir   :    “ayo ada pertanyaan lagi yang bisa tak kasih lima ribu,”Tanya si Sopir mantap

              Tim 8 GMC pun kaget!..

Njoyo :    “Opo meneh bos!, Tanya Njoyo.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Sopir   :    “Ayo, Sopo sing paling pinter nang sejarah, jare arek sekolahan, “Tanya sopir meyakinkan…

Tim 8 :    ”Oke bos!… Opo meneh timbang turu, ”jawab Tim sontak

Sopir   :    ”oke…nama asli ibu Kartini Siapa?..Tanya Sopir.

Agil     :    ”Yo, Raden Ajeng Kartini Bos! ”Jawab Agil

Sopir   :    ”Keliruuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,”Jawab Sopir keras, sambil banting setir dekat tikungan sengguruh.

Njoyo  :    ”Yo, Bener ta Bos,Opo meneh,”balik tanya Njoyo.. ke sopir

Sopir   :    ”Nama Aslinya Ibu Kartini adalah Harum,”Jawabnya santai

Yusi    :    ”Kok iso,”jawabnya kebingungan….

Sopir   :    ”Nyanyikan Lagu Ibu Kartini, pasti ketemu,”kata sopir..

Tim 8  :    akhirnya nyanyi bareng ”Iiiiiibu Kita Kaaaartiniiii, Puutri seejatiii, puuutri Indonesiiia, Harum Namanya, ”serentak dan kompak….

Tim Expedisi sangat meriah dengan tawa rianya seakan kegiatan Epedisi kali ini tanpa beban dan penuh kehangatan dan kebahagiaan, serta tumbuh menjadi sebuah naluri kekompakan tim.

Akhirnya tibalah mikrolet di Kantor Perhutani Sengguruh dan Pak Rukhan Turun, ternyata pintu perhutani tergembok (hari Minggu Liburan), Ijin pun dilempar begitu saja d teras Kantor Perhutani. Mikroletpun meneruskan perjalanan yang dengan rute sangat berliku dan penuh jurang terjal di kiri dan kanan. Perjalanan diperkirakan masih 6 jam sampai di Pantai Modangan Blitar. Ayo ……. ono PR gawe arek PA, PR e Matematika……… suara Sopir memecah ketegangan di dalam Mikrolet………………

Njoyo :    ”Opo Maneh…. Bos, ” teriak Njoyo keras

Sopir   :    ”PR Matematika Gelem Gak ,”Jawabnya lantang sambilpegang setir

Tim 8 :    ”Geleeeeeeeeeeeeeeeeeem!”Jawab Tim 8 serentak

Sopir   :    ”Ngene ceritane, ”Ono arek kos 3 sak ulan Mbayar 25.000, lha semua mbayar dititipkan ke pembantu agar diberikan nang ibu kos jumlah semuanya  75.000, ambek pembantunya diberikan ke ibu kos 75.000, lalu ibu kos sa’aken nang pembantune, akhirnya pembantu dikasih 5.000, nah pembantune yo saaken nang arek kos, arek kos dikasih 3.000 supaya dibagi secara adil, wis saiki itungen duweke kari piro!, ”Tanya sopir ke Tim 8

Joko    :    ”yo kari 70.000 bos, ”jawab Joko

Sopir   :    ”iku jenenge, ngarang ……..! jawaben sing bener, dipikir disek,”jawab sopir dengan santainya…

Sopir   :    ”Wis lek pancene gak iso tak enteni sampe molehne tak papak nang ngliyep,”jawab sopir

Yusi    :    ”mapak ta bos, piro ongkose bos lek teko ngliyep,”tanya Yusi

Akhirnya Yusi, Pak Rukhan, Sopir bertransaksi di dalam lajunya mikrolet untuk penjemputan di Pantai Ngliyep, tanggal 26 juni dan kesepakatan harga pun terjadi, dijemput jam 01.00 WIB Siang. Sopirpun melaju semakin kencang dengan mikrolet LG nya, jalur berliku dan tanjakan serta jalanan yang sedikit sakit kulit, sehingga membuat tim terasa di goyang dengan lagu kucing garong….KAMI PUN TIBA DI PASAR DONOMULYO (Kota kecamatan Paling Selatan di Kabupaten Mlang).

dscf0084 Tiba di Pasar Donomulyo

SPONSOR CAIR DI DONOMULYO

Pukul 11.15 WIB, Mikrolet LG tiba di Pasar Donomulyo, semua tim turun dan langsung dibagi tugas masing-masing.

Joko, Gading ke Kantor Polisi, Kantor Kecamatan Donomulyo, Koramil serta KPH Bantu Kecamatan Donomulyo untuk menyerahkan tembusan perijinan dari KPH Malang Raya.

Agil, Njoyo, Si’o, Kukuh berbelanja kebutuhan yang diperlukan selama tiga hari kedepan bagi semua tim.

Pak Rukhan dan Yusi mengontak link yang ada di Donomulyo (Didik Print N Com) untuk menanyakan kendaraan yang akan mengantar tim Ke Pantai Modangan. Kontakpun terjadi dan semua tim disuruh siap 15 menit lagi karena kendaran sedang menuju ke Pasar Donomulyo.

Pukul 11.30, semua tim telah berkumpul dan menyelesaikan tugas masing-masing, sejurus kemudian kendaraan tiba bersama Didik (link GMC di Donomulyo).

Didik    :    ”Assalamu’alaikum, Pak Rukhan,”Sapa Didik.

Pak Rukhan: ” Wa’alaikum Salam, Gimana Kabarnya,”balas Pak Rukhan.

Didik    :    ”Alhamdulillah baik-baik aja, gimana sudah siap, kalu sudah langsung aja dan mampir ke rumah dulu,”jawab Didik.

Pak Rukhan: ”Sudah, Langsung aja daripada nanti kesorean di Modangan, ”balas Pak Rukhan

dscf0090

 Tiba di Hutan Modangan

Akhirnya semua tim naik pick Up sejenis Land Rover yang memang diperuntukan untuk jalur yang sangat keras dan menantang semua tim terkagum dengan kendaraan jemputan tersebut.

Pukul 11.45 WIB, Tim 8 tiba di rumah Didik dan istirahat sebentar, kemudian diberikan perbekalan untuk perjalan berupa 12 nasi bungkus dan 2 dos Air mineral, dan kendaraan hanya membayar  harga 25% dari harga sebenarnya  benar-benar tak terlupakan dan berterima kasih banget untuk ”Bang Didik Print N Com” yang telah meringankan beban tim GMC SMK Negeri 4 Malang.

”Akhirnya sponsor cair di Donomulyo, ”kata Njoyo dan semua tim pun sependapat.

Pukul 13.15, Kendaraan tiba di hutan Jati Modangan, dengan perjalanan dari Donomulyo ke Hutan Jati Modangan sangat ….sangat….terjal dan penuh resiko, begitu pula dengan kendaraan yang ditumpangi tim telah kehilangan lampu halogen depan sebelah kiri (harganya jelas mahal, karena bagus banget sebelahnya kanan yang masih utuh). Tim pun ucap syukur dengan beristirahat sambil menyantap bekal, bersama dengan Didik dan Sopir.

Selesai istirahat dan santap bekal Tim 8 GMC mengucapkan terima kasih dan berpisah dengan Didik dan Sopir dengan mengambil dokumentasi bersama, karena kendaraan untuk menuju ke Pantai Modangan jelas sangat berisiko, maka Petualangan pun akan di Mulai…..

 HARI PERTAMA KAMI DIMANJAKAN OLEH PAK RUKHAN

Pukul 13.30 WIB, Setelah istirahat dan berpisah dengan link, maka Tim 8 GMC meneruskan dengan hiking and tracking sejauh + 3 Km untuk menuju ke Pantai Modangan.

Pukul 14.00 WIB, Tim 8 GMC tiba di pantai Modangan dan sekaligus mencari tempat untuk Istirahat.

Pukul 14.30 WIB, Setelah semua tim istirahat dan terkagum-kagum atas ciptaan Allah yang sangat indah dan pantainya berssiiiiiiiiiiiiih sekali, maka tim 8 GMC berkumpul, berdikusi, debat, membuat pertimbangan dan akhirnya….diputuskan.

Pukul 14.45 WIB, Sehubungan dengan kondisi cuaca yang tidak memungkin ombak sedang tinggi, serta malam telah dekat dan rute untuk perjalanan malam sangat berisiko, maka diputuskan kita bermalam di Modangan. Asyiiiiiiiiiiiiiik Ngecamp Rek …! ”teriak njoyo keras yang memang dari awal kepingin menikmati malam di Pantai Modangan begitu juga dengan Yusi yang ngebet bermalam di pinggir pantai sambil ngamati penyu malam harinya.

Pukul 15.00 WIB, Semua tim mendirikan tenda di sebelah timur dari pantai Modangan dan 50 m dari bibir pantai.

Pukul 15.15 WIB, Semua Tim hanya meninggalkan Njoyo dan Yusi yang kecapekan dan memilih beristirahat daripada menjelajahi Pantai Modangan.

Keindahan dan kebersihan pantai Modangan memang sangat dirasakan oleh semua tim, tim mencari kerang, rajungan, dan ikan (tapi sayang gak dapat) untuk sarapan malam serta TIM 8 GMC menjadi lebih bangga lagi karena telah berada di Perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang bisa dikatakan Camping di Malang dan Mandi Di Blitar dengan di tandai Patok Perbatasan yang dibuat oleh tim sonografi Kodam V Brawijaya Malang.

dscf0110

  Perbatasan Malang-Blitar

Dipantai Modangan tim juga melakukan penelitian tentang kondisi pantai, hutan dan binatang, hanya penyu yang belum dilakukan pengamatan

Pukul 17.00 WIB, Sebagian tim telah menjelajahi Pantai Modangan sekaligus mandi (bersih diri di Kabupaten Blitar) kecuali Yusi dan Njoyo yang terpaksa mandi Malam (sori Bok cewek mandinya ya gelap-gelapan), kemudian kembali ke Camp untuk menyiapkan diri dengan memasak, dan makan bersama.

19.30 WIB Semua Tim 8 GMC telah selesai mandi, sholat, makan, dan diteruskan dengan Koordinasi, Pak Rukhan menjelaskan jenis makanan pantai yang bisa dimakan lalu persiapan melakukan pengamatan Penyu di Pantai Modangan.

Pengamatan yang dilakukan selama 3 jam Tim 8 GMC  tidak menemukan Penyu karena kondisi cuaca saat itu cerah dan bulan purnama dengan ombak besar, maka penyu tidak menuju ke pantai untuk bertelur atau mencari sarang untuk bertelur dikarenakan Penyu Takut Cahaya dan Pergerakan apapun (alam asli Indonesia Kary: C. Mackinon). Akhirnya tim 8 GMC ramai-ramai cari rajungan untuk sarapan malam dan tim dapat banyak karena rajungan serta kerang banyak menuju pantai.

22.30 WIB Tim 8 GMC tiba dari pantai yang di camp hanya Pak Rukhan thok….., maka masak rame-rame serta makan rame rame menghabiskan rajungan, kerang cukit, maka semua tim 8 GMC kenyang lalu evaluasi dan membuat kesimpulan hari pertama serta di Pantai Modangan.

dscf0101

 Pantai Modangan

23.00 WIB Rapat di mulai didepan api unggun langsung dipimpin oleh Pak Rukhan….dan … langsung

Pak Rukhan : ” Bagaimana pendapat dan tugas kalian hari ini….

Gading :    ”Menurut saya hari ini kegiatan sangat mengesankan, menarik dan banyak kesimpulan yang dijadikan acuan kedepan,”Jawab Gading serius

Kukuh  :    ”Enak pool pak dan bermanfaat,”Jawab kukuh jawani

Joko    :    ” Pokok’e istimewa thok, hari pertama menurut saya tak akan terlupakan, Pak,”Jawab Joko

Agil     :    ”Pokok’e hari ini kami dimanjakan oleh Pak Rukhan,” Jawab Agil

Njoyo, Yusi, Si’o: ”Setujuuuuuuuuuuuuu hari ini kita dimanja OLEH Pak Rukhan,” jawab mereka serentak.

Pak Rukhan: ” oke…oke…! kalau itu pendapat kalian tentang kegiatan kita hari ini, sekarang tugas kalian bagiamana?”tanya Pak Rukhan tenang

Gading :    ” Pengamatan  dan kesimpulan  kami tentang lingkungan, dan binatang ada beberapa kesimpulan :

1.      Hutan disini tergolong bukan hutan tropis, tapi hutan tanaman keras antara tanaman jati dan Mahoni, memang di sebelah timur yang telah masuk wilayah Blitar hutan Tropis masih terlihat utuh.

2.      Pantai terlihat masih sangat perawan dan asli kembali namun masih menyisakan sisa – sisa kejayaan (mewisatakan) Pantai Modangan  Tahun 90 –an Kata Penduduk serta adanya sisa sumur tua dan pesanggrahan.

3.      Keasrian dan Perawan kembali Pantai Modangan juga terpengaruh oleh peningkatan Pasang air laut dan Gelombang Pasang Tahun 2006 dan awal tahun 2007.

4.      Binatang yang terlihat adanya 3 elang jawa yang melintas di sekitar Pantai Modangan, Kelelawar Jawa (sedikit lebih Besar), serta beraneka suara burung yang pernah punah di sekitar Malang selatan terindikasi bahwa adanya perkembangan yang sangat menggembirakan.

5.      Terdengarnya suara monyet ekor panjang juga adanya jejak kijang dan babi hutan (celeng) dan suara beruk jawa (Monyet Hitam Legam berekor Panjang) juga mengindikasikan adanya peningkatan yang baik bagi kehidupan satwa di sekitar Pantai Modangan.

6.      Untuk Penyu Tidak Tampak karena pengaruh Lingkungan tapi kalau dilihat kondisi pantai memang cocok untuk bertelur atau hanya tempat transit bagi penyu.

Jadi Kesimpulan Akhir tentang lingkungan dan Binatang bisa dikategorikan baik dan menuju peningkatan yang kalau tetap dijaga akan memuaskan, ”begitulah Paparan Gading tentang kegiatan TIM 8 GMC di Pantai Modangan sekaligus mewakilikesimpulan dari anggota lain.

Pak Rukhan : ”Bagus kalau kalian telah berani membuat kesimpulan, meskipun pengamatan dan pemantauan hanya sesaat, itupun indikasi kalian telah bekerja dengan exstra, saya sangat terkesan, dan bisa diakhiri evaluasi hari ini, selamat istirahat, karena besok kita butuh energi yang lebih besar, rute sangat berisiko meskipun siang, bahkan kalau besok kita berangkan pukul 08.00 wib, maka perkiraan saya kita tiba di Ngliyep Malam hari atau sore, itupun bila tebing lerung tidak dalam kondisi pasang, Kalau Pasang terpaksa kita ngecamp di hutan, sekian dan wassalam, ”jawab Pak Rukhan menjelaskan sekaligus menutup evaluasi tersebut.

Pukul 24.00 WIB, Tim 8 GMC SMK Negeri 4 Malang  berjalan menuju tenda dan encari salah satu yang belum ketemuyaitu …………..TIDUUUUUUUUR..!

Untuk Malam pas tidur ndak perlu di tulis disini ada sesuatu yang bikin penasaran soriiiiiiiiii … ya kena sensor (pokoke sensor … rek…!)

dscf0118

 Menunggu Penyu dari kejauhan

HARI KEDUA BENAR-BENAR BERPETUALANG

Senin, 25 Juni 2007

Pukul 04.00 WIB, Hei…! tangiiiiiiiiiiiiii..! tangiiiiiiiiiiii…! jam papat, sholat….!, sholaaat….! ayo… Masaaaaaaaaaaak, Mangan, gawe mlaku,  mbontot mariki…! ”teriak Pak Rukhan kuenceeeeeng banget,  membangunkan semua anggota Tim 8 GMC yang terasa nyenyak tidurnya.

Tim 8 GMC pun bangun kecuali Kukuh yang masih melungker kayak ulo…”Kata Njoyo.

Kuuuuuuuuuuuuh……….!Tangiiiiiiiii……….!Kuuuuuuuuuuuuh..!, ”teriak Agil memaksa.

Akhirnya Kukuh bangun dengan mata yang sayu, kelihatan kalau masih ngantuk.

“Lapo sih rek, wong turu kok digugah, jik tak turu mane, ”jawab Kukuh dengan lirihnya.

“Mas….Tangi mas olah Raga…ambik Golek Rajungan, “jawab Njoyo sekenanya.

”Ayo…Ayo…Ayo, ”golek sing akeh gawe mangan,”jawab Kukuh semangat

”Koen iki Kuuuuuuuuh … Kuuuuh,Lekono badokan ae cepet,”jawab Agil sambil tersenyum…

Akhirnya semua Tim 8 GMC bangun dan berolah raga sejenak, lari kecil menuju sungai di wilayah Blitar untuk mandi dan sholat.

Pukul 06.00 WIB, Semua Tim Kerjasama untuk masak,  makan, dan koordinasi untuk perjalanan serta membagi tugas seperti hari kemarin.

Pukul 06.30 WIB, Koordinasipun dijalankan dipimpin ulang oleh Pak Rukhan.

Pak Rukhan : ”Untuk kegiatan hari kita jalankan metode Hiking and Tracking dan nantinya kalau memungkinkan kita rapling, tugas dan catatan tetap dipakai, jangan lupa, jangan memaksakan langkah dan minum, karena perjalanan kita jauh kurang lebih 35 Km dan sulit air, serta peta untuk navigasi tertinggal di sekolahan, kompas sudah ada. Pesan saya jangan terlalu dekat dengan pantai karena kondisi ombak sedang meningkat kesepakatan kita 100 M dari bibir pantai dan jangan terlalu jauh dari tim, karena komunikasi HP tidak ada sinyal, HT kita tidak bawa, ”Pak Rukhan menerangkan dengan jelas.

Tim 8 :    ” Siap Pak, kita tetap mengikuti aturan, dan kita juga harus saling menjaga, GMC……………….Yes……….!! ”teriak tim 8 Kompak

Pukul 07.00 WIB, Semua anggota melakukan Bongkar Tenda dan packing, untuk persiapan meneruskan perjalanan.

Dihati semua Tim 8 GMC masih berat untuk meninggalkan Pantai Modangan yang indah, bersih, hijau dan pasirmu halus bak pipi seorang gadis, bila pagi matahari timbul dari tebing begitu indahnya bagai seorang gadis yang beridiri, bila sore matahari terbenam begitu cantiknya bagaikan lambaian seorang gadis, dan bila malam rembulan menampakan senyumnya yang mempesona, oh … Indahnya Modangan, semoga tahun-tahun yang akan datang kami akan mengencanimu kembali, Modangan kau Cantik Sekali, Allahu Akbar takbir yang kukumandangkan sebagai rasa bahagia, syukur kami atas ciptaan Allah  dengan nama Modangan

Pukul 08.00 WIB, Kami berpose untuk mendokumentasikan diri dan berdoa lalu ….let’s go to Mbandung beach.

 TIM 8 MENEMUKAN SEEKOR ULAR PYTHON SEPANJANG 5-6 METER

Perjalanan dan kemampuan kami benar-benar langsung diuji untuk menuju ke target pertama yaitu Kondang Mbandung,

Navigasi pertama dan penembakan dengan kompas untuk menerjang tebing di sebelah timur Pantai Modangan yang berketinggian + 75M dengan kemiringan 90O ternyata gagal dengan berbagai perhitungan:

a.      Tebing Modangan adalah batuan kapur dan tanah endapan yang labil dan mudah longsor

b.      Banyaknya tanaman berduri, merambat, serta belukar

c.      Bila dilakukan rock climbing dengan metode individu juga sulit, karena sulitnya tebing, begitu juga bila melakukan layer climbing juga sulit.

Akhirnya keputusan kedua diambil dengan metode junggle tracking roll yaitu metode yang dipakai dengan menempuh jalur memutar yang lebih jauh.

Perjalanan menuju kondang Mbandung sangat menguras stamina dan energi karena rutenya yang jauh juga melintasi pesisir, gunung, bukit, hutan jati dan mahoni juga hutan tropis.

Perjalanan menuju ke Kondang Mbandung menjadi sebuah harapan yang kembali yaitu rindangnya hutan yang mulai hijau kembali, Tim 8 GMC mempunyai 2 sisi catatan yang  banyak tentang perjalanan ke Kondang Mbandung ini yaitu Sisi Baiknya:

1.            Perjalanan yang melelahkan dan membuka jalur baru dari Pantai Modangan menuju Pantai Ngliyep.

2.            Banyaknya hutan yang sudah menjadi hijau kembali meskipun sisa-sisa ilegal logging masih nampak.

3.            Mulai nampaknya jejak-jejak binatang hutan seperti Kijang, Maupun Babi/Celeng ini pertanda bahwa kehidupan alam liar mulai nampak

4.            Ditemukannya ular python yang panjang antar 5-6 meter pertanda baik bagi kehidupan binatang liar

5.            Adanya pengawasan yang ketat dan merakyat oleh pihak Perhutani dan Polisi hutan sebagai penjaga ekosistem hutan

Sisi Buruknya yaitu: Dibukanya jalur untuk offroad dan motor Trail yang secara langsung maupun tidak langsung mengganggu ekosistem hutan

Perjalanan yang mengesankan ketika ke Kondang Mbandung ini adalah Pak Rukhan tidak memberitahukan kalau beliau menemukan seekor ular jenis Python yang panjangnya kurang lebih 5-6 Meter yang berada persis dibawah kakinya Joko, itupun Pak Rukhan memberitahu ketika kami sudah turun dari bukit menuju ke Kondang Mbandung.

Pukul 11.30 WIB, Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai ke Kondang Mbandung dengan kondisi yang tenang dan damai serta ombak yang ramah, ini dibuktikan dengan hampir semua tim Mandi kecuali Pak Rukhan dan Yussi.

  dscf0145

Nampang biar selamat di Kondang Bandung

Selain ombak yang ramah dikelilingi oleh hutan yang lebat ditemani suara binatang liar, dan pasirpun telah berubah warna kalau biasanya kita melihat pantai dengan pasir putih tapi kalau di Kondang Mbandung Pantai berpasir hitam dan berbiji besi sehingga berkilauan bila disinari matahari. Kamipun beristirahat di Kondang Mbandung selama 45 Menit untuk menikmati suasana yang damai.

Pukul 12.15 WIB, Kami ambil Gambar sekitar Kondang Mbandung dan mendokumentasikan diri, maka semua tim cabut kembali untuk meneruskan perjalanan menuju ke Pantai Ngebros dan Jonggring Seloka diteruskan ke Goa Cengik.

 TIM 8 TERSESAT SERTA MINUM AIR KELAPA MUDA (CENGKIR) DAN MAKAN UBI MENTAH

Pukul 12.15 Perjalanan kami mulai terasa sangat berat sekali karena seharian perut tak terisi nasi dan air serta rute atau jalur yang ditempuh juga membuat perasaan mulai goyah.

Jalur diteruskan menuju ke Timur untuk menaiki rute setapak yang ada sejauh + 300 M, namun ujung-ujungnya kami menuju ke tebing yang tertinggi tempat  penduduk untuk memancing sambil menginap. Akhirnya kamipun sadar kalau kami tersesat, maka kamipun kembali ke Kondang Mbandung untuk membuka kompas dan membuat jalur baru, ke Utara menjauh dari gunung Bandung (tehnik memutari gunung), disinipun kami gagal karena jalur yang ada ternyata justru menjauh dari tepi pantai lebih dari 500 meter, maka kami pun kembali ke Kondang Mbandung, untuk membuat tehnik baru dengan jalur baru pula.

dscf0147

 Lapar,  kesasar pula

 Dalam perjalanan ke Kondang Bandung yang kedua, semua tim telah kehabisan bekal (air dan makanan habis, kecuali lontong dua biji yang kami sisakan). Perjalanan ini Allah masih memberikan harapan untuk menambah kalori dengan adanya Pohon Kelapa Hijau yang kecil,  ada + 8  biji yang masih kecil-kecil sebesar genggaman tangan, namun penuh dengan air. Akhirnya Njoyo Manjat dan memotong Cengkir tersebut, haus kami sedikit berkurang meskipun rasanya sedikit asin dan gimana gitu lo….!

Setelah menghabiskan cengkir pikiranpun sedikit tenang dan perjalan an diteruskan dengan tehnik menyusuri lereng  dan resiko paling nekatpun diambil, dengan pertimbangan :

1.      Kalau kita melintasi rute pemancing, peralatan climbing diperlukan dan resiko yang sangat berbahaya pasti ditemukan, karena berhadapan langsung dengan ombak laut selatan yang sedang ganasnya serta kedalaman laut yang tak terdeteksi.

2.      Kalau kita memutar ke utara waktu yang ditempuh semakin lama dan menjauh dengan tujuan semula, target waktu yang ditentukan semakin tipis, bekal berkurang khususnya air, dan rencana semua tim akan berantakan.

3.      Apabila dengan tehnik menyusuri ”lereng belah tengah” yang dibutuhkan adalah pikiran sehat, fisik kuat dan langsung memecah gunung dengan waktu yang dibutuhkan lebih sedikit, serta tidak menjauh dari pesisir pantai.

Dalam tehnik yang ketiga ini Yussi dan Kukuh jatuh dari lereng dengan ketinggian 45 meter dan tersangkut belukar, maka luka-luka kecilpun di terima sebagai tanda kenangan telah menempuh rute yang berisiko. Tim 8 GMC pun kompak mengobati bersama dengan obat-obatan yang telah disiapkan oleh tim.

Pukul 13.45  WIB, Semua tim memasuki daerah yang menandakan sisa-sisa pembukaan lahan baru, dengan ditandai adanya sedikit tanaman cabe, kacang tanah, ubi batang (pohong), untuk yang ketiga ini menjadi target semua tim termasuk Kukuh yang meringis kesakitan tapi kelaparan.

Ubipun dicabut beberapa batang dan disikat habis, karena kelaparan yang amat sangat, dan kehausan yang tak terlupakan, perutpun sedikit tertawa …uh..uh..urk…!, suara pohong mentah ketika memasuki usus besar.

Pukul 14.20, Semua Tim 8 GMC benar-benar kehabisan tenaga dan energi, akhirnya tim mengambil kesepakatan untuk istirahat untuk mengganjal perut dengan lontong dan masak mie rebus plus sanghainya Yussi, lokasi yang diambil adalah puncak bukit dan ditengah hutan jati yang lebat jalur menuju ke  Kondang Siyep dan Pantai Ngebros (PANTAI KARANG BOLONG). Setelah beberapa saat tim istirahat, tak disangka Agil ketiduran dengan suara dengkurnya yang keras, Njoyopun membangunkannya.

Pukul 15.00 WIB, Tim 8 GMC, meneruskan perjalanan menuju ke Kondang Siyep dan Pantai Ngebros.

 dscf01381

 ini Jamur

KAMI GAGAL CAVING DI GOA CENGEK JONGGRING SELOKA

DiKondang Siyep dan Pantai Ngebros tim hanya melintas saja untuk memburu waktu menuju ke Pantai Jonggring Seloka, guna istirahat dan Caving ke Goa Cengik serta mengisi bekal khusunya air minum.

Pukul 15.30 WIB Tim melintasi hutan mahoni, disini banyak sekali ditemukan rumah-rumah semut merah (jenis belum diketahui) yang terbuat dari tanah liat dan bergelantungan di atas pohon diameter rumah-rumah semut merah tersebut + 1 Meter, semua tim terasa tertegun dengan adanya rumah semut tersebut, seumur-umur baru melihat ketika melakukan expedisi ini dan yang selama ini didengar dan dilihat di TV  kalau model rumah semut tersebut adanya di Papua dan Australia. (disini tim sepakat akan melakukan penelitian secara langsung tentang semut tersebut tahun depan).

Pukul 16.00 WIB, Tim Tiba di Pantai Jonggring Seloka, dalam kondisi fisik dan peluh yang menjalar disemua tubuh, caaaaapeeeeeeeek …  dan haus banget…! ”kata Yussi.

Di Pantai Jonggring Seloka ini semua tim istirahat dan mencari air sebagai perjalanan menuju ke Tebing Lerung (Kondang Lerung), oh…ya… semua tim diberi degan oleh penduduk yang ada di Pantai Jonggring Seloka,”kata mereka, kita dianggp anak muda yang gak punya pekerjaan karena jalan dari Pantai Modangan ke Ngliyep yang berjarak 1 malam perjalanan (nyusur pantai), maka hadiahnya adalah degan hijau (kelapa muda)…. wah seger banget deh…! habis udah satu pohon oleh Njoyo.

Selain kami melihat-lihat kondisi Pantai Jonggring dan pantai Ngebros (karang Bolong) kami juga mendekat ke Goa Cengek yang berjarak 500 M dari pantai Jonggring, saat itu ada penduduk sekitar yang lagi nyetrum ikan dan udang (kondisi goa Cengek adalah goa yang dialiri sungai) hampir mirip dengan Goa Sriti di Kepanjen.

Melihat Kondisi cuaca yang mendung dan sore (gelap) serta kondisi tim yang harus berburu waktu untuk menuju ke Tebing Lerung, bila terlambat karena air pasang akan sulit dilewati dan harus berputar 15Km, maka diputuskan untuk Caving di Goa Cengek di Tunda.

 KAMI SEDIKIT TERLAMBAT, TEBING LERUNG SUDAH PASANG

Pukul 16.30 WIB, Tim 8 GMC Melanjutkan perjalanan dengan pikiran terasa berat untuk meninggalkannya, karena masih banyak yang belum kami explore seluruh kekayaan Pantai Jonggring Seloka.

Oh, ya, sebelum kami tulis perjalanan ke tebing lerung aku jelaskan dulu tentang tebing lerung, menurut penduduk di Sumberoto Dono Mulyo.

Tebing Lerung atau Kondang Lurung adalah sebuah muara sungai yang langsung dihimpit oleh tebing di sebelah kiri dan kanan dengan ketinggian + 50 M dengan tingkat kemiringan 90o.

Kondang Lurung ini sangat bermanfaat bagi nelayan untuk melakukan perjalanan menuju ke Ngilyep dari Jonggring Seloka begitu pula sebaliknya. Apabila air surut Kondang Lurung bisa dilewati dan jarak tempuh ke dan Dari Ngliyep hanya 3 sampai 4 jam saja, namun bila air laut pasang Kondang lurung tidak bisa dilewati selain ombak yang langsung masuk ke muara dan kedalam sungai lurung (penduduk desa biasa menyebut) bisa mencapai 5 – 7 Meter, maka nelayan harus berputar sejauh 15 – 20 Km untuk menuju ke Ngliyep atau ke Jonggring Seloka dengan waktu tempuh 10 – 12 jam.

Jadual air laut surut bila tidak ada rembulan yang purnama adalah jam 4 – 9 Pagi tapi bila Rembulan mendekat purnama Air laut surut jam 1 – 5  sore.

kond-lurung1

  Itulah sedikit gambaran dan kondisi sebenarnya Tebing Lerung, yang menjadi acuan waktu bagi anggota tim 8 GMC SMK Negeri 4 Malang untuk meneruskan perjalanan.

16.30, WIB setelah berdoa, memetakan jarak tempuh dan waktu (navigasi) untuk melakukan perjalanan ke Tebing Lerung yang berjarak dari Pantai Jonggring Seloka ke Tebing Lerung adalah 5 Km, dengan perkiraan waktu tempuh adalah 30 menit, tehnik yang dipakai adalah speed hiking and tracking system.

Tehnik ini tidak ada istirahat dan stamina harus oke serta langkah yang dipakai adalah sedikit lebih cepat, maka dengan perjalanan yang kami anggap tidak ada halangan.

Kami melaju dengan langkah yang optimis tidak akan tertinggal oleh waktu ke Tebing Lerung, dibenak semua tim hanya ada kata, ”Semoga kami tidak terlambat karena air sudah sedikit pasang, serta langkah kami diberi kekuatan, meskipun fisik kami banyak terkuras”

Pukul 16.45 WIB, Kami tiba dihutan sekitar Bibir Tebing Lerung, ketika kami melihat ke bawah ternyata Tebing Lerung telah pasang dan Jalan lintasnya telah tertutup air laut, kami semua berpikir telah terlambat.

 dscf0164

  dibalik Keindahan Tebing Lerung

Semua tim membuat kesepakatan bahwa kita tetap mengambil resiko untuk melewati tebing lerung dengan tehnik rapling. Resiko yang dihadapi adalah

1.            Ketika Rapling (penurunan Tebing dengan Menggelantung) tubuh kita akan dihantam ombak secara langsung.

2.            Apabila tidak mampu menjaga keseimbangan karang-karang tajam menunggu semua tim. (cedera ringan, Luka-luka serious)

3.            Ketika sampai didasar sungai lerung tingkat kedalaman belum diketahui, (renang dan Carabinar serta webbing dan tim pioner adalah sebagai safety)

4.            Doa, kerjasama tim dan keahlian masing-masing tim sangat diandalkan.

Pukul 17.00 WIB Semua tim, peralatan dan P3K telah disiapkan, dan Gading adalah sebagai leader serta safety pioner diteruskan oleh Joko, Kukuh, Yessi, Njoyo,Mr, Rukhan, Si’O dan Agil yang terakhir.

 Perhitungan semua tim benar, ombak kedalam air laut dan kecepatan ombak sebagai resiko utama, luka menggelayuti di kaki Njoyo, tubuh kukuh dihantam ombak secara langsung, Joko terpeleset karena tidak mengetahui kedalaman air pasang.

   dscf0160 Rutenya di Tebing Lerung berisiko

Setelah semua tim selesai rapling dan pembenahan peralatan seadanya (karena iar terus naik), maka Mr. Rukhan sebagai leader untuk menyusuri Sungai Lerung mencari posisi penyeberangan yang tepat.

Pukul 17 45 WIB Semua Tim terlepas dari air pasang di Tebing Lerung dan terus ke Timur menuju sebuah pondok kecil di tepi tebing Lerung (diketahui Pondok Milik Himpunan Tani Nelayan Pantai Selatan yang di ketuai Pak Syukur saat itu Pak Syukur dan Istri tinggal sementara sebelum ke Tulung Agung)

Di Pondok  HTNPS semua tim istirahat sebentar sambil memperkenalkan diri dengan Pak Syukur, obrol ngalor Ngidul selama 15 menit sambil tanya rute tercepat ke Pantai Pasir Panjang.

Semua Tim berkesimpulan perjalanan dari Pantai Jonggring Seloka ke Kondang Lurung Sedikit terlambat, meskipun rute sangat rawan dan berisiko, namun tetap bisa dilalui dengan selamat.

 MALAM ITU YUSSI DAN AGIL TERLUKA KARENA JATUH DAN FISIKNYA DROP.

Pukul 18.00 WIB Semua meneruskan perjalanan mengikuti rute yang diberikan oleh Pak Syukur, berbekal air dan senter di tangan, hutan tropis dan pantai di Laut Selatan Kabupaten Malang serta perjalanan malam yang lebih berisiko dirambah oleh TIM 8 GMC.

Rute yang diberikan oleh Pak Syukur ini ternyata bercabang-cabang dan berhadapan langsung dengan Tebing Laut Selatan serta Pantai dan Hutan. Tim yang di Leaderi oleh Mr. Rukhan Kesasar…………!

Pukul 19.00 WIB tim Kesasar….. rute tidak ada, atau tim 8 GMC kehilangan jejak. Akhirnya tim 8 GMC kembali 15 menit ke belakang mencari rute awal dan di temukan, maka diteruskan rute yang menuju ke Pantai Pasir Panjang.

Pukul 19.30 WIB Tim 8 GMC melintasi sebuah bukit yang tingkat kemiringanya 75o dan tinggal beberapa ratus meter lagi akan masuk ke Pantai Pasir Panjang, namun tim paling depan termasuk penulis mendengar teriakan,”Tolooooooooooooooooong…..! Tolooooooong…! ”suara Yussi berteriak. Tim 8 GMC pun berhenti dan Gading berkomunikasi dengan teriakan,

Gading   : ”Ada apa…! teriak Gading

Si’O       : ”Yussi dan Agil Jatuuuuuuuuuh….! Jawabnya lantang

Gading   : “Oke Kami Tunggu di atas, bisa jalan Gak…!,” Tanya Gading

Si’O       : ” Bisaaaaa, entenono disek yo….! Jawab Si’O

Gading   : “Ya…! “singkatnya

15 menit kemudian Si’O, Yussi, dan Agil Tiba dalam Kondisi meringis Kesakitan, terlihat jelas Yussi dan Agil kakinya terluka dan berdarah.

Kukuh dan Gading membantu mengobati luka sahabatnya tersebut, ternyata tim malam itu kompak banget, dan bersaudara banget, maka Tim 8 GMC menuruni bukit menuju ke Pantai Pasir Panjang.

20.00 WIB TIM 8 GMC tiba di Pasir Panjang dengan kondisi tertatih, haus, lapar, lelah dan terluka, maka tim bersyukur dan sholat isya’ dilaksanakan di pinggir laut Pantai Pasir Panjang.     

 TIBA DI NGLIYEP PAK RUKHAN MEMBERI KAMI KADO, MAKAN, MINUM KOPI, GRATIS..TIS…TIS

Pukul 20.15 WIB Tim meneruskan perjalanan menuju ke Pantai Ngliyep dengan melintasi desa nelayan pencari lobster, kondisi desa nelayan tersebut sangat mengenaskan karena sudah hancur 20% tenggelam pasir laut dan tak berpenghuni (kayak desa hantu apalagi dilewati malam hari, semakin seram).

Pukul 20.45 WIB tim tiba di Pantai Ngliyep dan….PakRukhan mengetuk satu rumah yang paling Barat 500 M  dari perkampungan nelayan di  pantai pasir panjang.

Pak Rukhan  : ”Thok…! Thok… Thok…! Assalamu’alaikum….!

Beberapa saat kemudian ada jawaban “wa’alaikum salam,”suara perempuan

Pak Rukhan : “Nyuwun sewu bu.., nopo warunge tasih buka?

Wanita        : “Enggih mas, tasih, sampean sangking pundit          dhalu-dhalu kok mriki, ”balik Tanya pemilik   rumah yang sedikit kebingungan

Pak Rukhan  : “Kulo sendanten sangking Camping, dugi Pantai       Modangan Mlampah ten Pantai Ngliyep   Mriki,”jawab Pak Rukhan

Wanita        : “ Lho kok tebih, “ pinarak riyen mas,”jawab   wanita          sambil mempersilahkan

Akhirnya semua tim istirahat ada yang di teras rumah juga ada yang didalam rumah sekaligus sebagai warung pantai, dan PakRukhan memperkenalkan diri juga semua tim diperkenalkan.

Obrolan gayeng dengan ibu pemilik warung dan tim delapan terasa menghilangkan capek dan haus, beberapa saat lelaki paruh abad dan masih terlihat kekar yang ternyata suami Ibu warung keluar dari bilik bambunya.

Pak Tua      : ”Lho, malem-malem tekan ngedi adik-adik niki? ”sedikit bertanya.

Gading        :    ”Sangking Pantai Modangan, Pak! ’Jawab Gading

Pak Tua      : “Lho kok tebih, mlampah nggih,” balik Tanya 

Joko           : “Inggih Pak, Camping,”Joko menjelaskan

Pak Rukhan  : ” Supihkale Kulo Pak!”Tanya Pak Rukhan

Pak Tua      : ”Panjenengan ingkang Camping, kale lare estri singen niko nggih, kang tendoe kena angin kale udan, ambyok kabeh,”Pak Tua menjelaskan

Pak Rukhan : ”Leres, Pak,…….. betuuuuuuuuuul,”jawab Pak Rukhan Lantang

Pak Rukhan  :    ”Pak namine Panjenengan menawi mboten salah, Pak Kemat,  Nggih,”pak Rukhan balik tanya

Pak Kemat   : ”Panjenengan tasih mboten lali, nggih,”jawabnya

Pak Rukhan : ”Mboten Pak, wong kulo tasih iling kale sayur bong garing, niko, enak tenan lho, pak, ”Pak Rukhan Sedikit nostalgia.

Pak Kemat dan Ibu Kemat dan semua tim tertawa.

Pak Rukhan  :    ”Bu, kulo pesen mie rebus 9 porsi, kopi 4 gelas, teh anget 4 gelas, mie nipun ingkang setunggal satu porsi isi mie kale, nggih bu,”pesan Pak Rukhan.

Joko           : ”gawe opo, Pak! Kok akeh, gawe arek arek, ta?”Joko keheranan

Njoyo         : ”yo, bener ta Jok! Wong awake dewe luwe, sing ngebosi saiki Pak Rukhan, ”Njoyo menegaskan.

Pak Rukhan  :    ”Yo, takbosi saiki tapi lek tambah mbayar dewe, aku ngerti lek koen kabeh keluwen, leres nggih Bu,”Jawabnya

Bu Kemat    :    ”sak kersopanjenengan pun pokoke mie kulo saiki laris, wis sedino mboten enten sing tumbas, wau,”Bu Kemat menjawab.

Akhirnya malam itu, semua tim oleh Pak Rukhan di istimewakan kembali dengan makan mie dan kopi serta teh hangat yang gratis, lapar malam itu terobati.

Pukul 21.30 WIB Tim 8 GMC mendirikan tenda di sekitar warung yang berhadapan langsung dengan Pantai laut selatan, masak nasi, cornet, sarden, dan tempe goreng serta kopi susu tetap dilaksanakan untuk menambah energi, dan menambah kehangatan di tengah malam yang semakin dingin.

Pukul 23.30 WIB Perut udah ditambah, maka Tim 8 GMC menikmati malam sambil membuka matras di tepi pantai dengan mendengar dentuman ombak laut yang semakin mendekat, tidur dipinggir pantai dengan berselimut purnama,  dihiasi bintang yang terasa bagaikan permadi perak diangkasa, suara binatang hutan dimalam hari bagaikan suara musik klasik yang menyentuh kalbu, dan Yussi memecah kesenyapan malam,

”Seandainya malam ini ada kekasih di sampingku, akan terasa indah menjadi berlipat,”Yussi bergumam

Lek Ngelamun, turu! Ojo dikene mbak! Wis turu, turu! ”bentak Joko memecah lamunan Yussi.

Malam itu semua tim menginap di Pantai Pasir Panjang yang Indah.

SARAPAN SAYUR REBUNG KERING DAN TIM 5 GMC MENEMUKAN GOA DI LADANG PENDUDUK

Selasa, 26 Juni 2007

Pukul 05.30 WIB Semua tim masih terlihat lelap, kecuali Gading dan Pak Rukhan Yang sudah bangun dan masih pakai sarung di depan tenda, dengan kondisi sudah bersih (habis Sholat) dan terdengar sayup suara perempuan mengucap salam ternyata Bu Kemat.

Gading        : ”Wa’alaikum Salam!

Bu Kemat    : ”Niki enten sayur rebung, menawi kerso, monggo.

Pak Rukhan : ”Oh. Enggih, Pundi bu, kulo remen kale sayur niku bu, ”Pak Rukhan spontan.

Gading        : ”Matur nuwun bu, ” jawab Gading dengan senyum.

Bu Kemat langsung kembali ke warungnya sambil senyam senyum, Pak Rukhan dan Gading langsung mencicipi sayur yang di masak dengan cara khas oleh penduduk desa di pesisir pantai selatan.

Perlu dijelaskan tentang Sayur rebung ini, resep dari Pak Rukhan dan Bu Kemat, yaitu

1. Jenis Bambu Khusus yaitu bambu bila tua hanya berdiameter 30 – 40 milimeter dan panjang bisa mencapai 10 meter, jadi kecil dan panjang biasanya untuk tulup.

2. Rebung (tunas Bambu muda) yang berusia + 1 minggu di potong dan dibersihkan sampai tidak ada lugut (bulunya) lalu  di rajang menjadi kecil panjang 30 milimeter dan diameter 3 milimeter lalu di cuci sampai bersih dan di rebus sampai masak terus dijemur hingga kering, semakin kering semakin bagus.

3. Diambil seperlunya untuk dimasak apa saja dengan cara, rebung kering di cuci hingga bersih kemudian di rebus dan dimasak terserah anda, semakin bagus menunya semakin lezat rasanya, apalagi bila masuk restoran, wah,  mahal deh, yang jelas ini menu untuk orang-orang yang gak punya modal.

Nah… itu tadi menu khas ala orang-orang yang gak punya modal alias senengane kek…kek..an..thok, titik.

Dan Gading pun berteriak ….Bangunnnnnnnnnn panganane wis mateeenggg….!

Yusii           : “Ono, op…op….po, ”Yussi dengan bahasa ngantuknya

Kukuh         : ”Opo… ding… mangan…. endih,”Kukuh yang langsung keluar dari tenda mendengar bahasa makanan.

Agil, Si’O, Njoyo, dan Joko masih menikmati tidur dan capeknya, maka sayur rebung kering dihabiskan Pak Rukhan, Gading dan Kukuh yang masih terlihat sisa-sisa ….sorriiii….iler kering di bibirnya.

Pukul 06.45 WIB. Semua tim 8 GMC telah bangun dan bersih-bersih kecuali Njoyo dan Kukuh yang masih terlihat mandi di pantai.

Pukul 07.30 WIB. Semua tim dalam kondisi bersih dengan perut telah terisi, yang spesial pagi itu yang masak adalah Mbak Yussi Si Manis, mulai dari Nasi, Mie Instan, Sarden, Cornet, tempe goreng, Kopi susu dan Teh Hangat, wah … nikmat deh pagi itu, kalo gak percaya, salah sendiri gak ikut…..

Pukul 08.00 WIB Tim 8 GMC mengevaluasi kegiatan yang telah dijalankan kemarin dan berkoordinasi tentang kegiatan hari ini yaitu search and Caving di Sekitar Pantai Ngliyep.

 

HASIL EVALUASI  TENTANG:

1.      Hutan atau Tumbuhan

Hutan disekitar kawasan pantai Modangan sampai Pantai Ngliyep dengan jarak 1 km dari bibir pantai bisa dikatakan dalam kondisi baik, dan subur dengan hampir 99% tidak ada penebangan liar (illegal Logging), namun jenis tanaman yang ada merupakan tanaman industri seperti Mahoni dan jati yang paling dominan serta tingkat umur tanam tidak lebih dari 5 tahun.

Hutan mulai terkontaminasi oleh area off road yang meliputi antara pantai serang (Blitar) dan Pantai Jonggring, dan merusak ekosistem yang ada di sekitar hutan dan pantai

2.      Binatang

Pada Pengamatan langsung untuk binatang yang sering tampak hanyalah jenis unggas, dan melata, monyet, babi hutan juga terlihat, bisa dikatakan ekosistem binatang mulai berkembang

3.      Cuaca

     Udara mulai terasa nyaman dan keseimbangan hutan dipesisir menjadi pengaruh terhadap udara yang mulai lembab dan teratur sesuai dengan perhitungan cuaca

4.      Pantai

     Pantai yang paling banyak jenisnya pantai curam dan dalam serta bebatuan, disekitar pantai modangan dan Jonggring Seloka yang paling banyak adalah tebing curam (tiada Pantai)

 

GRAPHIC MOUNTAIN CLIMBER (GMC) MENEMUKAN GOA

Pukul 09.00 WIB, Tim telah melakukan evaluasi dan persiapan melaksanakan Pencarian Goa, Koordinasi pagi itu sangat dibantu oleh Pak Kemat yang dijadikan acuan dalam pencarian goa (Pak Kemat sangat mengenal lokasi disekitar Desa Kedungsalam).

Koordinasi dipimpin langsung oleh Mr. Rukhan dan persiapan tim dibagi menjadi dua:

1.      3 Orang Menjaga Tenda dengan menyiapkan Konsumsi

2.      5 Orang mencari Goa dengan perbekalan peralatan Climbing dan penerang plus Bekal.

Pukul 09.30 WIB Tim 5 Berdoa dan Pak Kemat langsung menuju ke Goa Bayi serta Sendang Kamulyan (Mata Air  yang berfungsi sebagai tempat semedi, klenik atau menjadi kemulyaan dunia).

Perjalanan yang diteruskan menuju Perbukitan hutan jati serta tegal (kebun) perhutani sejauh 5-7 Km dari Camp GMC. Disekitar kebun Jagung dan Kebun tumpang sari dengan Ketela Pohon Tim disuruh berhenti oleh Pak Kemat karena disekitar situ ada goa.

Pak Kemas:  ”Mas, Berhenti dulu, kita Cari Goanya di sekitar sini, dulu saya tandai dengan Pohon Pisang, ”terang Pak Kemat kepada Tim 5

Semua Tim berhenti sekaligus beristirahat untuk karena hampir 1,5 jam jalan tanpa henti, Pak Kemat meskipun tua (60 tahunan) kalau jalan dihutan dan gunung jangan ditanya kemampuannya pokoknya top markotop.

Pukul 10.45 Tim 5 GMC dan Pak Kemat menemukan Goa yang ditutup dengan pohon pisang dan mbothe, maka tim 5 GMC bersemangat untuk membuka dan mempersiapkan peralatan climbing dan caving untuk masuk, ternyata Goa dengan model semi horisontal dan didalam dengan model vertikal yang naik turun, namun sayang sekali masih banyak tangan jahit yang berupaya merusak dengan memotong stlagmit dan stalagtit di gerbang goa dan pengerukan tanah (banyak karung plastik berisi tanah dibiarkan)

 peta-guolowo2

Tim 5 GMC dan Pak Kemat terus masuk dan mengamati di dalam goa yang sangat indah penuh dengan stalagmit dan stalagtit (lihat foto), pemetaan juga tidak lupa.

Di kedalaman 500- 700 Meter tim melihat banyak kelelawar serta menemukan lawang kembar, saat itu pula tim 5 GMC bersepakat Goa itu dinamakan ”Guo Lowo” (goa Kelelawar).

Pukul 12.15 WIB tim 5 GMC telah masuk hampir 1 Km dan belum tuntas, namun kondisi oksigen dan udara yang mulai berkurang, maka tim 5 GMC dan Pak Kemat sepakat untuk kembali keluar dari guo lowo.

Pukul 12.45 WIB tim 5 GMC dan Pak Kemat telah tiba di mulut goa dengan kondisi yang penuh dengan peluh, namun bahagia karena telah menikmati keindahan guo Lowo di Kedung salam yang belum pernah dijamah oleh para pendaki atau Tim Pecinta Alam lain selain GMC.

Istirahat dan rasa syukur terus diucapkan dihati semua tim 5 GMC, yang merasa membuat sejarah dengan menjadi tim GMC pertama yang telah melakukan Caving secara langsung dengan menikmati kondisi alam bawah tanah secara langsung.

Setelah istirahat dan minum, maka tim 5 GMC kembali ke  Camp.

 

LIBURANKU BENAR-BENAR INDAH

Pukul 13.30 Tim 5 GMC dan Pak Kemat telah tiba di Camp dengan melintasi jalur umum, dengan kondisi kelelahan dan kelaparan, maka tim 3 GMC yang di tenda telah menyambut dengan makanan yang jelas nikmat, apalagi yang masak adalah gadis manis dipinggir panta alias Yussi.

Pukul 13.45 Sopir Mikrolet telah tiba di camp dan tim GMC belum persiapan untuk pulang karena terasa masih pingin lama di hutan mengisi liburan, saat itu pula sang leader mengkomando dan memberi pengertian kepada semua tim GMC, bahwa pendakian tahun ini sangat berkesan tapi jangan terlena karena sopir mikrolet juga dibatasi waktu serta kesepakatan dengan tim GMC adalah Minggu Jam 14.00 WIB harus dijemput dan pulang.

Saat itu pula tim bersih-bersih dan berkemas untuk sayonara meninggalkan pantai Ngliyep menuju kota Malang.

Pukul 14.00 WIB Tim 8 GMC meninggalkan Pantai Ngliyep dengan penuh kebahagian dan kebersamaan serta keindahan.

”Liburan tahun ini benar-benar berkesan dan penuh dengan keindahan, ”Senyum Yussi sang Virgin.

Pak Rukhan pun memberi komentari didalam mikrolet LG menuju bahwa evaluasi seluruhnya adalah di sekolah….”imbuhnya….

Haaaaaaaaaaaaa………..! Rutinitas lagi, ” semua tim terperangah karena Pak Rukhan telah memberi Pekerjaan baru Bagi GMC yaitu Evaluasi Total……

Cukup disini catatan perjalan kami yang jelas banyak yang tidak bisa dicatat, karena aktivitas yang padat dan terlalu enak untuk diceritakan, Thank’s wassalam.

dscf0195

 

 

 

 

 

6 thoughts on “ENAKNYA LIBURAN DENGAN BERPETUALANG

  1. Pak Imam

    Dik, bisa minta lokasi pantai2 yg kalian ceritakan itu? khususnya kondang bandung. Saya tertarik ke sana. Terima kasih

    Imam M.

  2. si'o

    VIVA GMC….

    wapik yo critoe… lha aku seng ngalami ae io kepingin mrono maneh..

    hahaha…

    untuk pak.imam…

    tepatnya kurang tau pak tp itu pantai setelah modangan….. wapik pak hahaha

  3. mayka (21)

    .pengalaman yg amat sangat menyenangkan sekali …

    .mpe bkin yang baca jd pgen k sana …

    .LIKE ^_^

    .aio maen gie …
    .ajak adeg”x .. ^_^

  4. andik yuanes

    Aq jga alumni GMC…
    sekarang menjadi Punggawa Samudra Pengawal Negara…( MARINIR ) klo GMC perlu bantuan aq siap…pa lagi belajar Junggle Survival…monggo…Andik Yuanes Alumni 1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s